Kuncoro Harto Widodo

Personal web

Datangkan Peralatan Cadangan Hadapi Bencana;Adisutjipto Siapkan Jurus Darurat

YOGYA (KR) – Padamnya lampu landasan pacu (runway light) selatan Bandara Internasional Adisutjipto, bisa menjadi preseden buruk bagi Yogya. Kejadian ini menyebabkan efek yang tidak baik, karena transportasi berhubungan erat dengan perekonomian. Pergerakan manusia dan barang menjadi terhambat karena penerbangan ditunda.

”Runway light mati menunjukkan titik lemah yang seharusnya tidak boleh terjadi untuk bandara,” kata Dr Kuncoro Harto Widodo, Kepala Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, kepada KR Selasa (8/11).  Kuncoro mengungkapkan, hal yang menjadi penghambat perekonomian akan membuat nama baik DIY tercoreng, apalagi kunjungan wisatawan terganggu. Ia menegaskan bahwa jaminan keselamatan menjadi hal prinsip yang tidak boleh ditawar dalam dunia transportasi. Kondisi ini menjadikan masyarakat menunggu respons cepat dari pengelola bandara untuk menjawab persoalan.

Menurut General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Adisutjipto Yogyakarta Agus Andriyanto, padamnya runway light selatan yang pada Minggu (6/11) malam murni karena gangguan teknis, yaitu kabel di dalam tanah lepas sehingga lampu tidak berfungsi, ditambah gangguan trafo. Pihaknya telahmenyiapkan ‘jurus’, antara lain dengan menambah cadangan lampu, kabel, trafo dan peralatan lain untuk mengantisipasi jika kondisi darurat kembali terjadi. Pihak TNI AU juga mendatangkan peralatan cadangan dari Jakarta. Agus mengatakan gangguan teknis seperti kabel lepas sulit diantisipasi. ”Kejadiannya mendadak dan itu sulit diantisipasi karena kabel tertanam di dalam tanah. Meski sudah belasan tahun, kabel itu masih laik. Upaya yang bisa kami lakukan adalah menambah cadangan peralatan,” katanya.

Akibat gangguan teknis yang mengganggu penerbangan itu, lanjut Agus, pihaknya menanggung semua akomodasi para penumpang yang keberangkatannya tertunda. Nilai total kerugian belum bisa diketahyui, karena saat ini pihaknya masih menghitung kerugian teknis dan menunggu klaim yang diajukan pihak maskapai yang dirugikan. Maskapai penerbangan melakukan penjadwalan ulang keberangkatan dan menawarkan pengembalian tiket (refund) kepada penumpang sebagai imbas penutupan Bandara Adisutjipto Minggu malam.

”Kami harus menjadwal ulang jadwal penerbangan dan ada 300 penumpang yang batal terbang pada Minggu hingga Senin (7/11). Kami mengatur kembali untuk tujuan Denpasar pada Senin pukul 11.40 WIB dan tujuan Jakarta pada Pukul 14.50. Penumpang memilih menunda penerbangan ketimbang refund sehingga nilai kerugian belum bisa dihitung sampai saat ini,” kata Flora Izza, Sales Manajer Garuda Indonesia Yogyakarta.

Menyinggung kewaspadaan 13 bandara, Kuncoro mengatakan seharusnya perubahan cuaca dan keadaan alam tidak dijadikan sebagai alasan dalam penerbangan pesawat. Pengelola penerbangan dan bandara harus menjadikan hal tersebut sebagai pertimbangan, sehingga sarana transportasi udara tidak menyandera masyarakat dalam ketidakpastian.

Cuaca adalah peristiwa perulangan yang selalu terjadi setiap tahun. Karenanya, harus ada antisipasi dan standar baku dalam menghadapi persoalan tersebut. ”Cuaca buruk tidak terjadi tahun ini saja, harus ada mekanisme yang cepat dan tepat untuk mengatasi,” katanya.
Menurut Kuncoro, pengelola penerbangan di Indonesia mesti belajar dari Bandara Kansai di Jepang yang berada di tengah laut. Bandara yang terletak tiga kilometer dari bibir laut tersebut, menggunakan teknologi yang tepat sehingga bisa memperkirakann ketahanan terhadap kondisi alam, termasuk tsunami.

Sumber: http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=251792&actmenu=35

Saturday, November 12th, 2011 News No Comments

Logistics to grow 8.3%

JAKARTA: National logistics services is predicted to grow 8.3% this year, with expected business value of IDR1.4 trillion.

Research agency Frost and Sullivan makes its outlook of logistics service industry in Indonesia regarding the national economic growth, which is claimed to improve.

Vice President of Transportation and Logistic Frost and Sullivan Asia Pacific, Gopal R, said that the commodities becoming the key with biggest potential for logistics business are oil-gas, mineral, coal, plantation, and manufacture.

“Oil and gas last year contributed up to US$700 million for vessel operators,” he said in the event Indonesia Logistic Outlook yesterday.

Gopal expected that this year natural oil and gas will contribute US$3.2 billion to revenue. He suggests that Indonesian logistic entrepreneurs see the sector of natural oil and gas as a big opportunity.

He also advises the government to work with private companies in efforts to optimize logistics industry in Indonesia, aiming at improving infrastructure to meet the needs of logistics providers.

“In Indonesia, the government and private companies work separately, unlike in China or Singapore where logistics management has been coordinated well,” he exposed.

Gopal admitted that Indonesia is facing a unique challenge in logistic industry, i.e. geographic condition of archipelago. According to him, the government has main task in providing infrastructure to that logistics activities can be connected locally and globally.

Director of Transportation and Logistic Center in Universitas Gajah Mada, Kuncoro Harto Widodo, thinks that national logistics sector must consider the integration of transportation mode to improve the efficiency of the business.

“We also have to pay attention on optimization. There are two problems of infrastructure, either the infrastructure doesn’t exist or the existing infrastructure is not optimal,” he told Bisnis recently.

Vice Chairman of Indonesia Association of Logistics and Forwarders (ALFI), formerly known as Gafeksi, Herry Susanto, urged that the government regulation on multimode must be approved soon to accommodate the growth of logistic business.

Finalized

In the meantime, Indonesia Chamber of Commerce and Industry (Kadin) is reportedly finalizing the draft of policy that will be submitted to the government and will be processed to be Logistic Regulation Draft.

Vice Chairman of Standing Committee of Logistics and Intermode in Kadin, Anwar Satar, said that next week the committee will have a meeting to discuss the draft.

He revealed that the draft is being finalized and is expected to be complete by the first quarter of 2011, so it can be submitted to the government and become a regulation draft. “Being finalized,” he told Bisnis yesterday.

He explained that the regulation draft is expected to cover logistics sector under one law, unlike the condition presently with separated law and overlapping regulations.

He is optimist that the management of comprehensive national logistics law under one roof can improve competitiveness.

Chairman of Indonesian National Ship-owners Association (INSA), Johnson W. Sutjipto, said that the management of national logistic sector under one roof can help the development of the sector.

Apart from the regulation under one roof, he suggested the formation of one ministerial agency as the supervisor of the sector to improve competitiveness.

Vice Chairman Kadin of trade, Distribution and Logistics, Natsir Mansyur, said that the regulation draft is important to regulate the sector and manage it under one ministerial agency.

Source: http://www.bisnis.com/articles/logistics-to-grow-8-dot-3-percent

Sunday, January 30th, 2011 News No Comments

Optimasi gudang KA bisa tekan biaya logistik

YOGYAKARTA: Pengangkutan barang dengan moda kereta api sekaligus optimasi pergudangan di stasiun dapat menjadi alternatif menekan biaya logistik yang tinggi.
Hal itu diungkapkan Direktur Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada Kuncoro Harto Widodo. Menurut dia, salah satu efisiensi untuk memacu kinerja pengiriman dan logistik adalah dengan integrasi dan manajemen moda.

“Jalur kereta api potensial untuk menjadi salah satu cara untuk manajemen moda. Kereta menjadi jalur utama dan nanti di kantong tujuan diintegrasikan dengan truk atau kendaraan lain,” ujarnya hari ini.

Kuncoro mengatakan strategi ini didukung dengan optimasi gudang (warehousing) di stasiun yang dimiliki oleh PT Kereta Api Indonesia maupun gudang-gudang yang dioperasikan swasta.

Dengan cara integrasi moda angkutan ini, lanjut dia, biaya angkut yang tinggi dapat ditekan.

Dia mengakui kinerja logistik di Indonesia belum cukup efisien karena beberapa faktor, termasuk biaya tinggi. Selain ongkos, lanjut dia, berdasarkan penilaian Bank Dunia dalam logistic performance index (LPI), infrastruktur, kepabeanan, dan kompetensi juga menyebabkan indeks kinerja logistik nasional masih menempati peringkat 74 dunia.

Pustral UGM, tambah Kuncoro, melakukan kajian untuk meningkatkan efisiensi tersebut, a.l. mengusulkan penerapan strategi optimasi dan integrasi angkutan multi moda.

“Infrastruktur memang juga harus diperhitungkan karena ada infrastruktur yang memang harus dibangun atau ada pula infrastruktur yang sudah ada tetapi belum dapat dioptimalkan,” tuturnya.

Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Iskandar Zulkarnain menuturkan kalangan pengusaha juga perlu meningkatkan kompetensi kerja. “Kompetensi merupakan faktor kunci pendukung logistik.”

ALFI yang sebelumnya dikenal Gabungan Forwarder dan Ekspedisi (Gafeksi) diketahui menggandeng Pustral UGM untuk menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan. Upaya ini dilakukan untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia di sektor logistik.

Sumber: http://www.bisnis.com/articles/optimasi-gudang-ka-bisa-tekan-biaya-logistik

Tuesday, January 25th, 2011 News No Comments

PPN forwarder agar dipangkas

YOGYAKARTA: Dasar pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) atas pengangkutan jasa forwarder diusulkan diperhitungkan kembali sehingga persentase pungutan pajak itu menjadi hanya 1% untuk memacu daya saing. Kalangan pengusaha terkait menilai pengenaan PPN 10% pada pengangkutan forwarder (freight forwarder) diberlakukan tanpa dasar perhitungan yang jelas.

Herry Susanto, Wakil Ketua Bidang Kepabeanan dan Perpajakan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), dulu dikenal dengan Gabungan Forwarder dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi), mengatakan pembahasan hal ini terus dilakukan dengan pihak terkait.

“Harus ada perhitungan ulang karena spesifikasi jasa forwarder yang masuk dalam perhitungan pajak ini tidak jelas. Kami telah mengusulkan apa saja yang masuk dalam sektor forwarder. Dan dalam perhitungan kami, PPN untuk forwarder diusulkan 1%,” katanya kemarin.

Menurut Herry, pengenaan PPN ini menekan daya saing sektor forwarder. Apalagi, kata dia, saat ini bisnis tersebut saat ini semakin lesu karena tekanan biaya angkut yang tinggi.

Dia mengungkapkan 15 tahun lalu, margin keuntungan freight satu peti kemas untuk perusahaan jasa bisa mencapai US$250. “Sekarang ini, untuk dapat US$25 saja susahnya setengah mati.”

Dengan demikian, perhitungan kembali dasar pengenaan PPN untuk freight forwarding diharapkan dapat memicu daya saing bisnis ini kembali.

Shipping line [maskapai pelayaran] untuk ocean freight [angkutan laut] tidak dikenai PPN karena penyerahan barangnya di luar wilayah pabean. Ini memang betul. Namun, di dalam negeri ini justru menekan karena biaya angkutan saja sudah tinggi.”

Optimasi

Di sisi lain, pengangkutan barang dengan moda kereta api sekaligus optimasi pergudangan di stasiun dinilai dapat menjadi alternatif menekan biaya logistik yang tinggi.

Hal itu diungkapkan Direktur Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada Kuncoro Harto Widodo. Menurut dia, salah satu efisiensi untuk memacu kinerja pengiriman dan logistik adalah dengan integrasi dan manajemen moda.

“Jalur kereta api potensial untuk menjadi salah satu cara untuk manajemen moda. Kereta menjadi jalur utama dan nanti di kantong tujuan diintegrasikan dengan truk atau kendaraan lain,” ujarnya.

Kuncoro mengatakan strategi ini didukung dengan optimasi gudang di stasiun yang dimiliki oleh PT Kereta Api Indonesia maupun gudang-gudang yang dioperasikan swasta.
Dengan cara integrasi moda angkutan ini, lanjut dia, biaya angkut yang tinggi dapat ditekan.

Dia mengakui kinerja logistik di Indonesia belum cukup efisien karena beberapa faktor, termasuk biaya tinggi. Selain ongkos, lanjut dia, berdasarkan penilaian Bank Dunia dalam logistic performance index (indeks kinerja logistik), infrastruktur, kepabeanan, dan kompetensi juga menyebabkan indeks kinerja logistik nasional masih menempati peringkat 75 dunia dengan poin 2,76.

Pustral UGM, tambah Kuncoro, melakukan kajian untuk meningkatkan efisiensi tersebut, a.l. mengusulkan penerapan strategi optimasi dan integrasi angkutan multi moda.

“Infrastruktur memang juga harus diperhitungkan karena ada infrastruktur yang memang harus dibangun atau ada pula infrastruktur yang sudah ada tetapi belum dapat dioptimalkan,” tuturnya.

Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Iskandar Zulkarnain menuturkan kalangan pengusaha juga perlu meningkatkan kompetensi kerja. “Kompetensi merupakan faktor kunci pendukung logistik.”

Sumber: http://www.bisnis.com/articles/ppn-forwarder-agar-dipangkas

Thursday, January 20th, 2011 News No Comments

Asosiasi logistik pacu kompetensi SDM

YOGYAKARTA: Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menggandeng Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengembangkan kompetensi sumber daya manusia di sektor terkait. Kerja sama ini diperlukan untuk memenuhi standar profesional tenaga kerja logistik menghadapi persaingan Asean Connectivity 2015.

Ketua Umum ALFI Iskandar Zukarnain mengungkapkan tenaga kerja merupakan salah satu variabel penting atau faktor penentu bisnis logistik. “Ini juga menjadi antisipasi Asean Connectivity pada 2015. ALFI memfokuskan adanya standarisasi kompetensi pekerja,” ujarnya usai meneken nota kesepahaman dengan Pustral UGM siang ini.

Nota kesepahaman tersebut diteken oleh Iskandar dan Rektor UGM Sujarwadi. Selain kesepahaman dua pihak, juga diteken nota kesepahaman antara Pustral UGM yang diwakili Direktur Pustral Kuncoro Harto Widodo dengan Ketua Indonesia Logistic and Forwader Association Institute Parluhutan Silitonga.

Dalam kesepakatan dua pihak, ALFI dan UGM melalui Pustral UGM akan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang logistik dan supply chain.

Secara teknis, Pustral UGM akan menyiapkan tenaga pengajar akademisi, sedangkan ALFI melalui ALFI Institute akan menyediakan tenaga pengajar praktisi.Pelatihan ini akan dimulai pada 16 Februari 2011 dengan target peserta dari mitra ALFI. Iskandar menegaskan kerja sama peningkatan sumber daya manusia ini juga aktif dilakukan asosiasi baik dalam forum regional maupun internasional.

“Dalam 4 tahun ke depan, kami berharap tenaga profesional logistik dari Indonesia bisa berperan di lingkup internasional.”

Rektor UGM Sujarwadi menyambut baik kerja sama dua pihak ini karena Pustral diharapkan dapat membantu mengembangkan industri logistik di dalam negeri.

Pustral diminta memberikan kontribusi di sektor logistik melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia di bidang logistik dan supply chain.

Sumber: http://www.bisnis.com/articles/asosiasi-logistik-pacu-kompetensi-sdm

Tuesday, January 18th, 2011 News No Comments

Birokrasi Perizinan Hambat Bisnis Logistik

Sumber: http://bataviase.co.id/node/138399

Lamanya proses bongkar muat barang, banyaknya rantai birokrasi perizinan, proses pelayanan yang masih manual, belum siapnya SDM di bidang logistik, kurang memadainya fasilitas dan prasarana, masih menjadi hambatan berkembangnya bisnis logistik di Indonesia.

Demikian antara lain kesimpulan roundtable discussion dengan thema “Penerapan Sistem Informasi Dalam Rangka Mendukung Angkutan Barang Antarmoda yang Efektif dan Efisien” yang diselenggarakan Badan Litbang Kementerian Perhubungan.

Kepala Badan Litbang Ir Denny Siahaan, di Jakarta, kemarin, mengatakan kesimpulan tersebut diharapkan bisa menjadi acuan bagi semua pihak untuk mewujudkan angkutan barang antarmoda yang efektif dan efisien. Dr Kuncoro Harto Widodo dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM Yogyakarta yang tampil sebagai pembicara dalam diskusi itu mengatakan, proses bongkar muat barang di Indonesia 5.5 hari, sedangkan di Singapura hanya satu hari, dan Jepang 3.1 hari.

Demikian juga dalam hal ekspor dan impor, rantai birokrasi masih terlalu banyak, yakni 178 dokumen dari 36 instansi pemerintah. “Selain itu. layanan masih manual, belum memanfaatkan teknologi dan informasi komunikasi. Hal ini tentu menghambat berkembanganya bisnis logistik di Indonesia.” ujarnya pada diskusi yangjuga menampilkan Ir Slamet Wldoyo dari Ditjen Perhubungan Laut dan peneliti Madya Badan Litbang. Ir Nanang Aryantono MT sebagai pembicara utama. Kuncoro mengatakan, penerapan teknologi informasi dan komunikasi dalam bisnis logistik sangat penting. Karena dapat meningkalkan kapasitas sistem dan efisiensi operasi (waktu).

Dengan demikian, secara otomatis dapat menurunkan biaya, menurunkan risiko kerusakan dan kehilangan, memudahkan dalam perencanaan, meningkalkan keselamatan dan keamanan. Peneliti Badan Litbang Ir Nanang Aryantono MT menambahkan, penerapan teknologi di bidang informasi dan komunikasi dapat meningkatkan efisiensi transportasi yang pada gilirannya akan meningkalkan efisiensi sistem logistik.

Menurutnya, perkembangan teknologi di bidang informasi dan komunikasi terbukti secara nyata meningkatkan efisiensi angkutan peti kemas, mempercepat proses transaksi bisnis dan pengurusan administrasi dalam kegiatan ekspor impor sehingga dapat dilakukan cargo treacktng dengan lebih cepat.

Thursday, March 25th, 2010 News No Comments
Kuncoro Harto Widodo (KHW) is director The Center for Transportation and Logistics Studies (Pustral) Gadjah Mada University for 2010-2012 period. This doctoral degree holder of Industrial Engineering from Osaka Prefecture University, Japan has been interested in logistics and supply chain management researches. Now KHW also lecturer in Faculty of Agricultural Technology, Gadjah Mada University.